Inilah Sosok Imam yang Meninggal Dunia Saat Mengimami Sholat Jumat di Mata Keluarga dan Sahabat

Inilah Sosok Imam yang Meninggal Dunia Saat Mengimami Sholat Jumat di Mata Keluarga dan Sahabat

Kabar meninggalnya Tatu bin Parlan (50), warga Karimun yang jadi imam sholat Jumat berjamaah di masjid dekat rumahnya mendadak jadi perbincangan masyarakat.

Bahkan rekan-rekan almarhum di perusahaan tambang granit, PT Wira Penta Kencana (WPK), berbondong-bondong datang ke rumah duka di Alor Jongkong, Kelurahan Harjosari, Kecamatan Tebing, Kabupaten Karimun, Jumat (16/11/2018).

Mereka datang dengan menumpang sejumlah bus. Tercatat sedikitnya ada 4 bus.

Sesaat jenazah almarhum hendak dibawa ke masjid Al Hidayah Alor Jongkong, seorang rekan almarhum menyempatkan memberikan kata-kata perpisahan di hadapan pelayat yang mulai memadati rumah duka.

Sulaiman Rahman, rekan almarhum itu mengatakan dirinya dan rekannya yang lain sangat terkejut dengan kepergian mendadak almarhum.

Almarhum selama ini dikenal sebagai seorang yang rajin ibadah atau sholeh dan kerap memberikan masukan positif bagi perusahaan.

Saking sedihnya, Sulaiman Rahman beberapa kali harus menghentikan pidatonya menahan tangisnya.

Seorang rekannya mencoba menenangkan Sulaiman Rahman dengan memegang pundaknya dari belakang.

"Almarhum selama ini dikenal sebagai pribadi yang rajin ibadah, sholeh. Semoga Allah mengampuni segala dosa-dosanya. Kami atas nama perusahaan mengucapkan terima kasih atas pengabdian almarhum selama ini," kata Sulaiman Rahman sambil terisak.

Seorang imam masjid Al Hidayah, Alor Jongkong yakni Yan Fitri dalam sambutannya sesaat sebelum jenazah almarhum dibawa ke masjid untuk disholatkan, berujar kematian almarhum terbilang istimewa karena terjadi saat tengah memimpin ibadah sholat wajib Jumat berjamaah.

"Insha Allah kepergian almarhum Khusnul Khatimah, amin," kata ustaz Yan Fitri yang disambut kata-kata amin para pelayat.

Almarhum semasa hidup adalah seorang yang rajin ibadah. Hampir setiap hari dapat dijumpai sholat berjamaah di Masjid Al Hidayah, Alor Jongkong.

Bahkan tak jarang ditunjuk menjadi imam sholat berjamaah.

Almarhum juga sering diundang jadi pembaca doa ketika ada warga menggelar kenduri atau doa selamatan.

Berdasarkan cerita para pelayat, saat itu Mas Tatu tengah memimpin ibadah sholat Jumat di masjid Hidayah, Alor Jongkong.

Pada rakaat akhir tepatnya saat tahyatul akhir, Mas Tatu menghembuskan nafas terakhirnya.

"Belum sempat salam, baru mau mulai tahyatul akhir," kata seorang pelayat di rumah duka di Alor Jongkong, Jumat siang sekitar pukul 14.30 WIB.

Jamaah curiga saat nafas almarhum terdengar sesak dan dalam interval pendek-pendek.

Kemudian tubuh almarhum roboh. Melihat itu, sejumlah jamaah terutama pada shaf depan terkejut dengan langsung mengucapkan doa.

"Usai sholat sesaat, kami lihat kondisi almarhum sudah basah mandi keringat pada bagian kepala. Mulutnya sudah mengatup sendirinya, subhanallah," kata pelayat bercerita.

Almarhum sempat dibawa ke RS Bakti Timah yang berjarak beberapa kilometer dari masjid Hidayah Alor Jongkong.

"Tidak lama di rumah sakit, mungkin dalam kurun beberapa menit saja, almarhum dinyatakan telah meninggal dunia," kata pelayat.

Para pelayat pada umumnya memuji almarhum meninggal seperti itu.

Mereka meyakini meninggal saat sholat apalagi tengah memimpin sholat jamaah Jumat tergolong sangat baik dan banyak diimpikan umat Islam.

"Tidak sembarang orang dapat anugerah seperti ini. Entah amalan seperti apa yang telah almarhum lakukan sampai meninggal dalam keadaan Khusnul Khatimah, insha Allah," kata sejumlah pelayat.

Mas Tatu meninggalkan seorang istri dan dua orang anak.

Mas Tatu sehari-hari bekerja sebagai karyawan perusahaan tambang granit, PT Wira Penta Kencana (WPK).

Saat ini rumah duka yang terletak di Alor Jongkong, Kelurahan Harjosari, Kecamatan Tebing, Kabupaten Karimun ramai dipenuhi pelayat.

Rencananya usai sholat Ashar, almarhum akan dimakamkan.

Sumber: tribunnews.com




Subscribe to receive free email updates: