Inilah Peristiwa Paling Berat yang Dialami Rasulullah SAW

Inilah Peristiwa Paling Berat yang Dialami Rasulullah SAW

Suatu ketika bunda Aisyah Ra bertanya kepada Rasul, “Duhai Rasul Allah, pernahkah engkau mengalami saat-saat terberat, melebihi beratnya peristiwa bukit uhud?”.

Sebagaimana kita tahu, peristiwa uhud adalah sebuah momen penuh hikmah. Hikmah yang hingga kini selalu dapat dipetik dan dipelajari oleh tiap muslim yang ingin memperbaiki kualitas diri.

Pertempuran di bukit Uhud terjadi pada tahun ke tiga Hijrah, merupakan pertempuran antara kaum kafir Quraisy yang meradang dalam dendam akibat kekalahan mereka dalam pertempuran sebelumnya di Badar.

Sebuah pertempuran besar, dimana pasukan Quraisy berhasil menghimpun sejumlah 3000 prajurit terbaik mereka untuk bertempur. Pertempuran yang dimenangkan dengan mudah oleh pasukan muslim.

Namun, usai pertempuran, pasukan muslim yang tengah lengah akibat tidak mematuhi perintah Rasul, berhasil dipatahkan oleh pasukan Quraisy yang ternyata kembali lagi ke bukit uhud, setelah sebelumnya mereka lari kocar-kacir meninggalkan pertempuran.

Mari kita tengok jawaban Rasulullah. Apa gerangan moment terberat yang dirasakan oleh Sang Kekasih Allah ini, melebihi hari di bukit Uhud. Dimana rantai besi menancap pada pelipisnya, senjata tajam merobek lututnya, dan gigi geliginya yang copot terbentur hantaman musuh Allah.

Hari dimana ia dikabarkan terbunuh, hingga tercerai berailah pasukannya saat itu, Hari yang kelabu dimana ia harus kehilangan paman tercinta, dan 70 sahabatnya yang setia gugur sebagai syuhada.

Apakah yang lebih berat dari itu?

Berceritalah Rasulullah:

“Saat aku berdakwah ke Tho’if, semua pemimpin Thoif menolak kedatanganku.

Bahkan mereka tidak memberikan kesempatan padaku untuk berbicara. Selama tiga hari aku menyusuri sudut-sudut negeri Thoif, mengetuk berbagai pintu, dan  menawarkan Islam pada siapapun yang kutemui. Mereka semua beramai-ramai mendustakan, menghina, mengusir dan menyakitiku.

Aku pun pergi membawa kecewa dan kegundahan. Gundah akan ketidaktahuan mereka tentang Islam yang mulia, Islam yang akan menyelamatkan mereka di akhirat kelak.  Aku terus berjalan hingga tiba di sebuah tempat bernama Qarn Ats-tsaalib.

Saat itu terdengar olehku suara Jibril, yang memanggilku dengan suara yang memenuhi ufuk.

Jibril berkata : "Ya Muhammad, sesungguhnya Allah mengetahui apa yang telah diperbuat oleh mereka terhadapmu. Jika engkau mau, malaikat penjaga gunung akan membalikkan gunung tersebut, agar menimpa dan menghancurkan mereka yang telah ingkar, menghina, menistakan, mengusir dan menyakitimu."

Dan aku menjawab, TIDAK.

Aku ingin diriku diutus sebagai pembawa rahmat, bukan penyebab azab. Kelak aku ingin akan ada dari keturunan mereka, kaum yang meng-Esakan-Nya dan tak menyekutukan-Nya dengan apapun”. (Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim).

Jalan hidup Muhammad SAW bukanlah jalan yang lempang.

Dirinya tertempa oleh berbagai cobaan dan ujian hidup, bahkan sejak masih berwujud janin dalam kandungan.

Terlahir sebagai yatim, disusul kematian ibundanya, ia tumbuh tanpa asuhan langsung ayah dan ibu.

Namun panduan cahaya Ilahi senantiasa menerangi langkahnya, membuatnya tetap bersinar dalam kelam dan kegelapan.

Apakah yang terberat bagi Rasulullah dalam perjalanan dakwahnya ke Tho’if?

Apakah penolakan itu? Ataukah penghinaan mereka? Atau pengusiran yang ia terima?

Hidup Rasulullah penuh liku dan luka. Begitu banyak cerita yang panjang tentang ujian dan penderitaan.

Namun pada akhirnya kita tahu, yang berat bagi Kekasih Allah itu bukanlah pengusiran itu, bukan pula lemparan batu, bukan tali yang menjerat lehernya kala ia rukuk, atau kotoran yang dituang ke punggungnya saat ia khusyu dalam sujud.

Yang berat baginya bukan segala caci, fitnah dan tuduhan gila.

Bukan pula derita yang dialami bersama pengikutnya kala tersiksa dalam pemboikotan.

Yang terberat bagi Rasulullah dalam kisah tho’if adalah, saat Allah memberikan wewenang dan kekuasaan legal baginya untuk menghancurkan para penista agama Allah dan Rasul-Nya.

Yang berat bagi insan utama itu adalah kala buncahan rasa sakit jiwa dan raganya mendapat kesempatan untuk dilampiaskan bagi kaum yang telah mengusir dan melukai tubuhnya.

Saat itulah saat terberat baginya.

Namun ia adalah insan utama. Ia menolak untuk melakukannya. Dan terujilah kebenaran namanya. Nama yang telah ditetapkan Allah padanya. Muhammad, yang terpuji di langit, dan di bumi.

Sumber: ummi-online.com



data-matched-content-rows-num="3" data-matching-content-columns-num = 3 data-matched-content-ui-type="image_stacked" data-ad-format="autorelaxed">