Masya Allah, Meskipun hanya Pedagang Sayur, Mbok ini Sangat gemar Berqurban

Masya Allah, Meskipun hanya Pedagang Sayur, Mbok ini Sangat gemar Berqurban

Namanya Mbok Merri, saat ini beliau sudah meninggal dunia ( Semoga Allah menerima Amal ibadahnya dan mengampuni semua dosanya),  saya tahu beliau dari waktu saya masih kecil, karena mbok Merri tinggal tidak jauh dari rumah saya.

Pekerjaan tetapnya adalah dagang sayur dipasar desa Wanadadi kabupaten Banjarnegara-Jawa Tengah, bukan pedagang besar.

Tapi dagang kecil-kecilan, tiap hari beliau berangkat kepasar hanya membawa keranjang dan tampah kosong ke pasar pagi-pagi sekali beliau berangkat setelah sholat subuh.

Kemudian menunggu ada petani dari kampung sebelah yang menjual macam-macam sayuran, beliau membelinya, seperti kelapa, singkong, sayur-sayuran dll.

Setelah membeli barang-barang dagangan tersebut dari petani dalam jumlah yang tidak seberapa, kemudian barang dagangan tersebut ditaruh diatas keranjang dan tampah yang dibawanya dari rumah, kemudian dijual dipasar itu juga dengan ditunggui sampai pasar tutup.

Dengan hanya berjualan seperti itu, dengan hasil yang tidak seberapa, beliau dengan dengan disiplin selalu menyisihkan sebagian keuntungan dari hasil jualannya untuk ditabung, yang ketika nanti saat hari Raya Idhul Adha beliau belikan kambing untuk Qurban.

Hebatnya setiap tahun beliau tidak pernah absen, dan selalu kambingnya paling besar dari yang lain, bahkan tidak kalah dari kambing-kambing Qurban yang diQurbankan orang-orang kaya di desa kami.

Banyak orang yang kagum dengan beliau tapi banyak juga yang kasihan karena beliau sendiri hidup dalam kondisi yang serba kekurangan,rumahnya rumah gubug dan berdinding gedek (anyaman bambu), genteng yang bocor dan lantai dari tanah, tapi dalam kehidupan sehari-hari beliau benar-benar orang yang sangat iklas menjalani kehidupan, membantu tetangga yang membutuhkan tenaganya adalah kesenangan buat beliau, beliau juga terkenal pintar menanak nasi dalam jumlah banyak, ketika ada tetangga yang punya hajat menikahkan atau menghitankan anaknya maka beliau adalah tukang menanak nasi yang handal.

Banyak tokoh agama didesa kami yang menemui beliau dan memberi tahu bahwa beliau tidak punya kewajiban ber Qurban, dan menyarankan lebih baik uang yang untuk Qurban dipakai untuk membetulkan rumahnya saja.

Tapi beliau lebih suka menjawab bahwa rumah di dunia ini tidak ada artinya, beliau lebih suka menyiapkan untuk membangun rumah di Surga kelak, saat ini mudah-mudahan beliau sudah menikmati rumah yang indah di alam sana.

Satu contoh sempurna tentang keiklasan dan keyakinan dalam ber Qurban, karena tidak semua orang memandang Qurban sebagai sesuatu yang penting, bahkan banyak orang yang hidupnya berkecukupan tapi masih sayang ketika harus ber Qurban.

Kalaupun ber Qurban hanya dengan kambing yang apa adanya yang sekedar memenuhi syarat Qurban.

Tidak seperti Mbok Meri yang selalu ber Qurban dengan kambing terbaik, meskipun harus menabung uang selama 1 tahun, semoga beliau bahagia disisi Allah SWT.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel