Rahasia Illahi, Akibat Kemaruk Harta, Kubur Meledak Jenazah Terpental

LIPUTANTOP.COM - Rasulullah SAW bersabda: "Kemudian Allah menjadikannya buta, tuli, bisu. Di tangan malaikat ada potongan besi, yang jika dipakai untuk memukul gunung, gunung itu akan hancur jadi debu. Malaikat memukul si kafir dengan alat itu sampai menjadi debu. Kemudian bentuknya dikembalikan lagi seperti semula, lalu ia dipukul lagi sampai ia berteriak histeris yang terdengar oleh segala sesuatu kecuali manusia dan jin." (HR. Muslim).

Pernah kita mendengar ada makam (kubur) yang mengeluarkan asap, bahkan terdengar bunyi dentuman seperti ledakan?

Itulah salah satu azab kubur. Seperti yang disebutkan hadits di atas, ketika malaikat memukul dengan potongan besi, pukulan itu sanggup menghancurkan gunung. Masyaallah.

Rahasia Illahi, Akibat Kemaruk Harta, Kubur Meledak Jenazah Terpental

Peristiwa itu biasanya terjadi di alam ghaib, bukan di alam nyata ini. Akan tetapi, atas ijin Allah, peristiwa seperti itu bisa saja diperlihatkan oleh Allah SWT. sehingga manusia dapat melihatnya atau mendengarnya, sebagaimana cerita berikut ini:

Peristiwa ini terjadi di wilayah Mauk, Tangerang. Menurut beberapa saksi, semasa hidupnya, si mayit adalah seorang yang tamak akan harta. Ia mengambil harta kekayaan yang bukan haknya. Ia juga menyia-nyiakan kedua anak yatim yang telah diamanahkan kepadanya.

TAHLIL HARI KETUJUH

Suasana di rumah Salim (Bukan Nama Sebenarnya) tampak hiruk-pikuk. Tetangga dan kerabat tampak hilir mudik di halaman rumah besar yang tampak megah bila dibanding rumah-rumah di sekelilingnya. Hari itu akan diperingati tahlilan, tujuh hari kepergian Salim yang meninggal dunia karena sakit.

Seperti kebiasaan warga setempat, tahlilan diadakan selama tujuh hari berturut-turut. Setelah ini, tahlilan akan ada jeda, untuk kemudian dilanjutkan pada hari ke empat puluh, hari ke seratus, dan hari ke seribu.

Malam itu, rencananya keluarga akan menyelenggarakan selamatan yang agak berbeda bila dibanding hari-hari sebelumnya.

Selain mengundang tetangga, kerabat, dan saudara-saudara jauh, selamatan juga diakhiri dengan hidangan yang lebih dari biasanya. Selain tahlil di rumah, di kubur Salim juga ada beberapa orang yang mengaji siang malam.

Memang sudah menjadi adat masyarakat setempat, mengadakan tahlilan selama tujuh hari setelah kematian. Apalagi bagi mereka yang berharta seperti keluarga Salim, mereka bisa membayar orang untuk mengajikan kubur Salim sampai satu minggu berturut-turut, siang dan malam.

Demikian pula pada kubur Salim. Pihak keluarganya sudah membayar 12 orang untuk mengaji di kubur Salim. Kelompok yang mengaji di makam itu dibagi menjadi dua kelompok, yaitu yang mengaji pada siang hari dan yang mengaji pada malam hari.

Hari itu adalah hari terakhir pengajian di makam Salim. Dua belas orang yang dibayar untuk mengaji itu sudah tampak hadir di makam. Mereka mengaji di bawah tenda yang sengaja didirikan di dekat kubur Salim.

Sementara itu, di rumah Salim yang kurang lebih berjarak 200 meter dari pemakaman, sudah hadir 40-an orang yang kebanyakan laki-laki.

Tahlilan di pemakaman hampir berakhir. Rencananya, menjelang maghrib mereka harus menyudahi bacaan, sehingga setelah itu mereka dapat menyantap hidangan tahlil, sebelum sholat Maghrib, untuk kemudian kembali ke rumah masing-masing.

Matahari masih meninggalkan rona merahnya di ujung timur, para pembaca doa masih khusyuk dengan bacaannya. Di sekeliling mereka sudah terhidangan nasi tumpeng, lauk pauk dan aneka makanan kampung.

Saat itulah tiba-tiba terdengar suara yang maha dasyat datang dari dalam makam Salim. Saking dahsyatnya bunyi yang mirip ledakan itu, sehingga mampu menghamburkan papan-papan menutup liang kubur.

Menurut keterangan Inor, jenazah Salim ikut terpental keluar dari dalam kubur. Semua orang yang ada di dekat makam itu terkejut luar biasa. Tanpa menolah lagi, mereka berhamburan meninggalkan tanah pekuburan.

Hanya ada dua orang yang tidak segera lari. Seorang bujangan bernama Ali dan seorang lelaki tua renta yang kondisi fisiknya tidak memungkinkan untuk segera berdiri, yaitu Haji Engkus. Karena takut dan paniknya, orang tua itu merangkak menginjak-injak makanan yang siap santap, tanpa sedikit pun menengok ke belakang.

Tidak hanya ledakan yang membuat orang-orang itu kaget, akan tetapi semburan tanah yang keluar dari perut bumi, itu pun membawa bau yang amat sangat menyengat.

"Seperti bau bangkai. Lah memang itu bangkai manusia," jelas Iyas keponakan Salim.

"Baunya sampai tercium ke rumah," tambah Inor yang jarak rumahnya kurang lebih 50 meter dari tempat Salim dimakamkan.

Berita meledaknya kubur Salim itu juga membuat ribut suasana rumah Salim yang dipenuhi oleh sembilan anaknya.

Mereka antara kaget, panik, takut, bercampur malu. Dalam hari mereka bertanya, mengapa bisa terjadi peristiwa itu, mengapa harus kuburan ayah mereka. Segera, anak tertua Salim meminta kuburan ayahnya selekasnya di tutup semen. Malam itu juga perintah anak tertua Salim itu dipenuhi.

"Mayatnya dimasukkan kembali, kemudian atasnya di semen, dan ditancapkan pohon kedondong sebagai tanda," terang Inor.

KEMARUK HARTA

Salim adalah anak kedua dari tujuh bersaudara. Walaupun ayahnya bukan orang yang kaya raya, tetapi mampu memberi beberapa warisan kepada ketujuh anaknya. Dari ketujuh saudara Salim, Amir adik ketiga dari Salim hidup lebih dari yang lainnya.

Amir seorang petani yang ulet dan rajin bekerja. Dalam beberapa tahun saja, sawahnya menjadi berpetak-petak, dan menghasilkan panen yang banyak pula.

Sebagai seorang yang dibesarkan dari keluarga sederhana, Amir seperti kacang tidak lupa pada kulitnya. Harta kekayaan yang ia peroleh ia dermakan kepada siapa saja, terutama keluarganya. Ia menikah dengan gadis Jawa dan diberi keturunan dua orang anak yang kesemuanya wanita. Istri Amir pun seorang yang pandai mengelola keuangan, sehingga kekayaan mereka tiada batasnya.

Setelah Amir menunaikan ibadah haji, istrinya dipanggil Yang Maha Kuasa. Tak lama setelah itu Amir pun menyusul istrinya. Dua orang anak Amir yang waktu itu berusia 8 dan 6 tahun, diamanahkan kepada Salim, entah karena pertimbangan apa. Karena merasa di titipi kedua anak Amir, Salim merasa berhak mengelola kekayaan adiknya itu.

Bulan berganti tahun, Salim yang semula berjanji akan mengelola kekayaan Amir, tampak ketamakannya. ia dengan tanpa kompromi mengambil alih semua kekayaan Amir sebagai miliknya.

Siapa pun yang meminta bagian warisan Amir, dilawannya, kendati orang tuanya sekalipun. Tidak hanya itu, Salim semakin

kemaruk untuk memperkaya diri, harta yang bukan menjadi haknya juga direbutnya.

Sepetak sawah di ujung desa yang menjadi hak waris adiknya, Rahmah, juga direbut Salim. Menurutnya adik bungsunya hanyalah seorang wanita yang tidak berhak mendapat tanah sawah seluas itu.

"Ibu, tidak bisa berbuat apa-apa, karena Salim merebutnya dengan cara yang keras dan kasar," cerita Iyas yang tak lain adalah keponakan dari Salim.

Tidak ada anggota keluarga lain yang berani melawan sepak terjang Salim, begitu juga orang tuanya.

Kabarnya ayah Salim sempat bersumpah, bahwa anaknya akan menjadi anak yang kualat , durhaka kepada orang tua dan keluarganya.

Nasib kedua anak Amir pun setali dua uang dengan keluarga yang lain.

Kedua anak yatim piatu itu hidup tersia-sia atas perlakuan Salim. Sedikit pun merasa tidak dapat menikmati kekayaan peninggalan orang tua mereka dengan layak.

Menurut cerita keluarganya, anak-anak Amir bagai orang pesakitan. Tidurnya di dapur, makannya dengan nasi-nasi sisa, kehidupan mereka sangat tidak terurus.

Kesimpulannya, mereka hidup terlantar, walaupun kekayaan ada di sekelilingnya.

Mungkin itu sebabnya, setelah berumur sepuluh tahun, anak tertua Amir segera dinikahkan ketika ada laki-laki yang melamarnya. Hingga suatu ketika, pada masa dimana Salim berada pada puncak kekayaannya, ia jatuh sakit, tanpa diketahui pasti penyakit apa yang dideritanya. Salim menderita sakit selama tiga bulan, kemudian meninggal dunia.

Hingga terjadilah peristiwa meledaknya kubur Salim yang menggegerkan kampung di sebelah barat kota Tangerang ini. Melihat musibah yang dialami keluarga ini, anak tertua Salim meminta supaya para kerabat dan sanak-saudaranya untuk memaafkan perbuatan ayahnya di masa lalu.

Tentu saja, keluarga Salim, seperti tercoreng mukanya. Bagaimana pun peristiwa yang menimpa mereka adalah azab dari Allah SWT, sebagai peringatan kepada yang lain.

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari cerita ini. Wallahu a'lam bish-shawwab.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel