Menikahlah Dengan Suami Orang

LIPUTANTOP.COM - Artikel Ini Sebenarnya Berjudul "Mengapa tidak jadi isteri kedua, ketiga atau keempat?" Sebuah judul yang sangat mengintimidasi bagi wanita di tengah isu pelakor (perebut laki orang) yang jadi viral di dunia maya.

Saya jadi ingat pesan ibu saya saat mulai beranjak dewasa (kebetulan saya anak tertua dan adik saya 5 orang semua perempuan).

Menikahlah Dengan Suami Orang
Image: G+ Bajak Laut Online

Beliau berkata, "kamu boleh menikah dengan siapa saja yang kamu sukai asalkan dia muslim, punya pekerjaan dan bukan suami orang."

The sisters...saya dan ke 5 adik-adik saya.

Tiga persyaratan yang harus dipenuhi oleh calon suami saya yang dari kacamata ibu dan dianggap tak akan membuat anak gadisnya menderita.

1. Muslim.

Ibu saya mengharapkan agar saya dapat suami yang seagama. Karena suami adalah imam dan pemimpin dalam rumah tangga.

Bayangkan jika imam dan pemimpinnya bukan muslim pasti akan menarik orang yang dipimpinnya menuju agamanya bukan?

Disitulah Islam melarang wanita muslimah menikah dengan laki-laki non muslim karena pernikahan ini bisa mengancam keselamatan agamanya.

Karena agama itu adalah ideologi bukan sebatas status semata.

Agama itu mengatur kehdupan kita, sehingga seseorang yang menganggap agama sebagai ideologi tak mudah untuk berpindah-pindah agama. Lagipula kita diperintahkan untuk mati sebagai muslim.

Jadi pesan saya buat semua wanita muslimah yang sedang menanti jodoh di luar sana, carilah yang seagama.

Meskipun kamu sangat suka sama seorang lelaki tetapi agamanya beda, stop! Karena yakinlah kamu bakal menuai masalah.

2. Punya pekerjaan.

Laki-lakilah yang menjadi tulang punggung keluarganya yang mencari nafkah untuk anak isterinya.

Jika ingin mencari suami, carilah yang punya pekerjaan seberapa sederhana pun pekerjaan itu.

Artinya dia siap untuk menanggung hidup kamu dan anak-anaknya kelak. Rezeki itu bukan dari pekerjaan tapi dari Allah SWT yang memberikannya lewat tangan suami.

Apa yang dimakan oleh isteri dan anak-anak adalah rezekinya yang dititip Allah lewat rezeki suami sebagai kepala keluarga.

Laki-laki yang belum bekerja dan masih jadi tanggungan keluarganya, belum siap menikah.

Jadi meskipun kamu sangat suka dengan seorang lelaki kalo dia pengangguran dan masih minta duit pada orang tuanya, artinya kamu nyari masalah.

3. Bukan suami orang.

Kebetulan kakak ibu saya menikah dengan suami orang (isteri kedua) dan beliau menilai bahwa kehidupan tante saya itu penuh beban.

Meskipun tante saya tetap setia mendampingi suaminya sampai akhir hayatnya tapi cerita perkawinannya tidaklah indah.

Betapa dia sering diteror oleh anak-anak tirinya. Betapa dia harus menjaga anak semata wayangnya dari gangguan saudara tirinya yang tinggal beda rumah (serumah dengan ibu kandungnya).

Karenanya sedapat mungkin menghindari menikah dengan suami orang, meskipun pesona mereka luar biasa.

Lebih dewasa, lebih ngemong, lebih mapan dan tahu memanjakan..tapi berpotensi membahayakan, terutama jika kamu tak bisa menerimanya membagi cinta dengan isteri yang lain.

Itulah tiga pesan ibu saya.

Tapi saya menemukan sebuah tulisan di bawah ini. Dan kalian bisa setuju ataupun tidak. Saya tuliskan kembali di sini sebagai sebuah masukan bagi wanita muslim yang masih jomblo.

MENIKAHLAH DENGAN SUAMI ORANG

1. Jika kamu belum bersuami.

2. Jika lelaki yang kau cintai belum limit 4 isterinya.

3. Jika dia sudah bisa mencukupkan nafkah lahir batin serta ilmu agama kepada istri sebelumnya, bisa bersikap adil (menurut ukuran manusia).

(Meskipun ini susah mengukurnya tapi kalian bisa membuat ukuran yang tentunya sangat subjektif, tergantung dari sudut mana memandangnya)

4. Jika dia juga cinta dan mau menikah denganmu secara sah menurut agama dan negara (bukan sekedar nikah siri, siri itu artinya rahasia.

Bukannya menjelekkan nikah siri (nikah rahasia), tapi nikah secara negara itu berarti pengakuan terbuka secara sah oleh negara kepada kita dan menjamin hak-hak kita sebagai isteri).

5. Jika dia lelaki saleh. (Ini juga mengukurnya sangat subjektif, tergantung penilaian masing-masing orang, karena sejatinya hanya Allah SWT yang tau siapa hamba-hambaNya yang saleh).

Karena lelaki saleh adalah milik Allah dan aset umat, tidak bisa diklaim milik orang tertentu begitu saja.

Ia dianjurkan untuk berbagi kesalehan, memberi kemanfaatan, mampu mendidik dan memberi nafkah kepada wanita-wanita muslimah di luar sana.

Katakanlah jumlah lelaki dan wanita seimbang di dunia ini, tapi jumlah lelaki SALEH siap nikah jaman now ini sangat sedikit.

Suka mana menikah dengan suami orang (tapi saleh) atau dengan lelaki yang gak jelas agamanya?

Tapi kalo memang mendambakan lelaki yang belum beristri, ya itu hak kalian. Setiap orang punya kriteria lelaki idaman.

Apakah kamu akan terus bertahan dengan prinsip itu dan memilih lebih baik tak menikah jika dengan suami orang ?

Apa kamu akan menolak jika nanti datang pria saleh yang sudah beristri melamarmu ?

Padahal bisa jadi surga kamu dapatkan melalui ridhanya yang berujung pada ridha Allah atasmu?

Coba kamu renungkan.

Anak gadis jaman now seringkali terbius dengan cerita cinta novel yang so sweet, (Tak heran jika novel kisah cinta Dilan-Milea laris manis di pasaran dan filmnya masuk jajaran box office di Indonesia) namun tak tahan mendengar kisah cinta segitiga Nabi Ibrahim-Sarah-Hajar yang penuh lika-liku.

Kisah cinta yang dipenuhi cobaan berat, ujian yang amat sangat, baik bagi Nabiyullah Ibrahim maupun isteri-isterinya.

Tapi perlu disadari kalau dari rahim keluarga poligami inilah lahir Nabi-nabi Bani Israil dan Bani Ismail.

Lalu dari keturunan Nabi Ismail ini kemudian lahirlah Rasulullah, Muhammad SAW. Artinya Rasulullah berasal dari bangsa yang lahir dari rahim Poligami. Lalu apakah pantas kita mencaci-maki syariat poligami ?

KESIMPULAN

1. Jangan mencaci.

Engkau boleh merasa belum siap atau memiliki pandangan yang berbeda terhadap poligami tapi jagalah lisanmu dari mencaci-maki syariat Allah itu.

Karena apa yang ditetapkan Allah hanya kebaikanlah yang ada di sana.

2. Siap mental.

Jika memutuskan untuk bersedia dipoligami lelaki saleh pastikan bahwa mentalmu benar-benar siap.

Fokuskan niat menjalani perkawinan sebagai ibadah demi mendapatkan surgaNya.

Perkawinan apapun pasti ada masalahnya (bahkan yang tidak poligami pun panen masalah), tapi pusatkan pada solusinya bukan masalahnya.

Jika semua itu dianggap sebagai ujian/cobaan siapkan mental untuk menerimanya sebagai konsekuensi dari sebuah pilihan.

3. Jomblo mulia.

Jika memutuskan untuk lebih baik jomblo daripada jadi isteri kedua, ketiga atau keempat itu juga pilihan. Jomblo bukan berarti hina.

Asal bisa jaga diri dan jaga kemuliaan diri. Mungkin pasangan kita nantinya telah disiapkan di surga oleh Allah SWT.

Sekarang terserah kalian untuk memilih dan memilah apa yang terbaik.

Tapi keputusan apapun yang dibuat pasti ada konseuensinya. Dan pilihannya adalah bukan lari dari konsekuensi itu tapi menghadapinya dengan gagah berani.

Berani memutuskan berani bertanggung jawab dengan keputusan itu.

Terakhir, bagi yang lelaki jangan merasa senang dulu. Jika merasa sanggup untuk mempertanggungjawabkan lebih dari satu wanita (isteri) di hadapan Allah SWT di Hari Penentuan nantinya, silakan.

Mempertanggung jawabkan satu isteri itu belum tentu lolos lho, belum anak-anak perempuannya.

Jadi jangan dianggap guyon masalah ini...Karena jaminannya neraka atau surga...!

Wallahu a'lam..




data-matched-content-rows-num="3" data-matching-content-columns-num = 3 data-matched-content-ui-type="image_stacked" data-ad-format="autorelaxed">