Nasehat Bagi Yang Sedang Di Uji Dengan Kesulitan Dan Kesusahan

LIPUTANTOP.COM - Hidup ini tidak selamanya mudah, tidak sedikit kita saksikan orang menghadapi kenyataan hidup penuh dengan kesulitan, kepedihan, dan, memang begitulah hidup anak manusia.

Dalam posisi apa pun, di tempat mana pun, dan dalam waktu kapan pun tidak bisa mengelak dari kenyataan hidup yang pahit.

Pahit karena himpitan ekonomi. Pahit karena suami/istri selingkuh. Pahit karena anak tidak sholeh. Pahit karena sakit yang menahun. Pahit karena belum mendapat jodoh di usia yang sudah tidak muda lagi, dan lain sebagainya.


Sayang, tidak banyak orang memahami kegetiran itu dengan kacamata positif. Kegetiran selalu dipahami sebagai siksaan.

Ketidaknyamanan hidup dimaknai sebagai buah dari kelemahan diri.

Tak heran jika satu per satu jatuh pada keputusasaan, dan ketika semangat hidup meredup, banyak yang memilih lari dari kenyataan yang ada. Atau, bahkan mengacungkan telunjuk ke langit sembari berkata: “Allah tidak adil!”

Begitulah kondisi jiwa manusia yang tengah gelisah dalam musibah, panik, merasa sakit dan pahit.

Tentu seorang yang memiliki keimanan di dalam hatinya tidak akan berbuat seperti itu, sebab ia paham betul bahwa itulah konsekuensi hidup.

Semua kegetiran yang terasa ya harus dihadapi dengan kesabaran, bukan lari dari kenyataan. Sebab, ia tahu betul bahwa kegetiran hidup itu adalah cobaan dari Allah SWT.

Allah SWT berfirman: "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155).

Ayat di atas mengabarkan bahwa begitulah cara Allah mencintai kita. Ia akan menguji kita. Ketika kita ridha dengan semua kehendak Allah yang menimpa diri kita, Allah pun ridha kepada kita.

Bukankah itu obsesi tertinggi seorang muslim?

Mardhatillah. Keridhaan Allah SWT sebagaimana yang telah didapat oleh para sahabat Rasulullah SAW.

Mereka ridha kepada Allah dan Allah pun ridha kepada mereka.

Yang manis terasa lebih manis, kepahitan hidup yang dicobakan kepada kita sebenarnya hanya tiga bentuk, yaitu ketakutan, kelaparan, dan kekurangan harta.

Orang yang memandang kepahitan hidup dengan kacamata positif, tentu akan mengambil banyak pelajaran.

Cobaan yang dialaminya akan membuat otaknya berkerja lebih keras lagi dan usahanya menjadi makin gigih.

Orang bilang, jika kepepet, kita biasanya lebih kreatif, lebih cerdas, lebih gigih, dan mampu melakukan sesuatu lebih dari biasanya.

Kehilangan, kegagalan, ketidakberdayaan memang pahit, menyakitkan, tidak menyenangkan.

Tapi, justru saat tahu bahwa kehilangan itu tidak enak, kegagalan itu pahit, dan ketidakberdayaan itu tidak menyenangkan, kita akan merasakan bahwa kesuksesan yang bisa diraih begitu manis.

Cita-cita yang tercapai manisnya begitu manis, yang manis terasa lebih manis, saat itulah kita akan menjadi orang yang pandai bersyukur, sebab, sekecil apa pun nikmat yang ada terkecap begitu manis.

Itulah salah satu rahasia dipergilirkannya roda kehidupan bagi diri kita, sudah menjadi ketentuan Allah ada warna-warni kehidupan, adakalanya seorang menatap hidup dengan senyum tapi di saat yang lain ia harus menangis.

Allah SWT berfirman: “Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun (pada perang Badar) mendapat luka serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Ali-Imran: 140).

Begitulah kita diajarkan oleh Allah SWT untuk memahami semua rasa.

Kita tidak akan mengenal arti bahagia kalau tidak pernah menderita. Kita tidak akan pernah tahu sesuatu itu manis karena tidak pernah merasakan pahit.

Ketika punya pengalaman merasakan manis-getirnya kehidupan, perasaan kita akan halus, sensitif, kita akan punya empati yang tinggi terhadap orang-orang yang tengah dipergilirkan dalam situasi yang tidak enak. Ada keinginan untuk menolong. Itulah rasa cinta kepada sesama. Selain itu, kita juga akan bisa berpartisipasi secara wajar saat bertemu dengan orang yang tengah bergembira menikmati manisnya madu kehidupan.

Bersama Kesulitan Selalu Ada Kemudahan.

Tidak sedikit orang yang menutup nalar sehatnya, setiap kegetiran yang mendera seolah irisan pisau yang memotong syaraf berpikirnya.

Kenestapaan hidup dianggap sebagai stempel hidupnya yang tidak mungkin terhapuskan lagi.

Anggapan inilah yang membuat siapa pun dia, tidak ingin berubah buat selama-lamanya.

Parahnya, perasaan tidak berdaya sangat menganggu stabilitas hati. Hati yang dalam kondisi jatuh di titik nadir, akan berdampat pada voltase getaran iman. Biasanya perasaan tidak berdaya membutuhkan pelampiasan.

Bersabarlah ketika diuji dengan kesulitan dan kesusahan, karena Allah SWT sudah menjanjikan bahwa setelah Kesulitan Selalu Ada Kemudahan.

Sumber: Menata Akhlaq Menuju Ridha Dan Cinta-Nya II



data-matched-content-rows-num="3" data-matching-content-columns-num = 3 data-matched-content-ui-type="image_stacked" data-ad-format="autorelaxed">